Minggu, 13 November 2011
Titik Sebuah Koma
Sebuah jeda untuk berhenti. Kembali menarik nafas dan menghapus peluh dari sebuah perjalanan. Saat menatap di ujung titik itu, hanya dua pilihan yang menggantung di tenggorokan yang tersekat lelah, menyerah kalah atau kembali menarik backpack dan menyamankan diri dengan alunan kaki. Ini yang disebut pendewasaan diri dan pemantaban emosi. Konsentrasi pada pengambilan keputusan bahwa semua adalah kesempatan langka dan butuh perjuangan, bukan sekedar waktu yang terbuang dan pengejaran tak terfokus. Bukan munafik, bahkan orang yang membawa kompas pun, butuh orang yang lebih tahu untuk memberi pilihan arah dan alternatif perjalanan. Proses... Tak mungkin tanpa kesalahan. Dalam sebuah perjalanan panjang di dunia asing, membutakan mata atau menulikan telinga hanya kebodohan seorang pandir belaka, hanya semata-mata membuang waktu percuma. Jeda... hanya koma yang akan berlanjut pada kisah selanjutnya. Setiap halaman dalam hidup, tokoh baru akan senantiasa muncul. Namun, tokoh-tokoh penentu tak akan tertinggal, karena setiap dialog dan alurnya mereka selalu ada. Doa ayah dan bunda sebagai penerang jalan, pelancar pilihan... Tiket mutlak dalam segala petualangan. (13/11/11-00:47)
Langganan:
Postingan (Atom)