Bukan hanya mimpi yang ingin kubeli. Bukan hanya angan, khayalan, atau cerita semu masa depan.
Rasanya ingin kugigit lidahku saat merasa berucap aku belum puas dengan semua.
Rasanya ingin kutampar saja.
Ada bagian dari jiwaku berharap lebih, meraih legenda pribadi yang orang bilang hanya obsesi semata.
Entah kepuasan, kehampaan atau justru semakin berlubang?
Kusebut diriku pengecut, karena berhenti melawan arus, dan tenang mengikuti alirannya.
Karena lelah bergeliat, lelah tertampar dan rasanya ingin berhenti berjuang. Apakah manusia pembelajar pernah menemukan kepuasan di setiap suapan makanannya?
Tak jelas bedanya tak pandai bersyukur atau penuh dengan target diri.
Tergantung pada siapa aku bicara.
Karena peluhku ingin berarti.
Puasku ingin bermakna.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar