Selasa, 18 November 2008

MEMOIRE KALIURANG

Mungkin takkan sama, ketika kisah tergores di sebuah perjalanan panjang menuju bukit plawangan. Meniti setapak demi setapak, jalan kaliurang, dengan belaian lembut angin dari megahnya Merapi. Seakan menarik diri untuk mendaki lebih tinggi, lebih jauh, lebih dalam.
Mungkin takkan sama, kisahmu dan kisahku...ketika menatap lapangnya langit, seakan menawarkan seluruh ketelanjangannya. Dan berisiknya ocehan burung-burung diantara dedaunan pagi itu, serta lengkingan elang jawa memamerkan keperkasaannya menguasai langit.
Ya..mungkin takkan sama jika kugambarkan seluruh detail suasana kaliurang dengan segala keindahan dan kepedihannya dari kaca mataku.
Namun jika saja kau berdiri di tempatku berdiri, ditengah-tengah suasana pagi yang masih berkabut, ketika matahari masih mengintip diantara dahan-dahan pepohonan, dan bulir-bulir transparan menghiasi seluruh dedaunan serta dinginnya nafas sang angin masih menusuk sumsum tulang, kau akan merasakan betapa hangat yang mulai terasa, perlahan mengaliri sel-sel darahmu. Jangan melawan atau sembunyi dari dingin itu....hadapi saja...pasrahkan saja...dan biarkan hangatnya mentari mulai menyusup dan merebak....seiring alunan orkestra hutan...menyapamu...menyambutmu...
Saat itulah mungkin kau akan mendengar....teriakan seluruh penghuninya mengucapkan selamat datang di kaliurang, kekasih.
Selamat datang di bukit plawangan...
Selamat datang pada sebuah kesunyian, ketenangan yang tersimpan di sudut utara yogya.

0 komentar: